Bagi Mason dan Caleb, penjelajah gua berpengalaman, pendakian rutin di hutan terpencil Kentucky seharusnya berakhir sebelum malam tiba. Namun, di antara bebatuan, mereka melihat sesuatu yang ganjil: embusan udara sedingin es yang keluar dari celah sempit pada batu kapur.
Lokasi itu tampak benar-benar belum terjamah. Tidak ada tanda-tanda, jalur setapak, ataupun pintu masuk gua yang diketahui di dekat sana. Namun, rasa penasaran mengalahkan kewaspadaan mereka.
Kedua pria itu menyelinap masuk melalui celah sempit tersebut, berharap menemukan rongga bawah tanah biasa. Sebaliknya, terowongan itu tiba-tiba melebar.
Di hadapan mereka terbentang koridor batu yang sangat besar.
Lantai koridor itu sangat halus, seolah-olah terkikis oleh lalu-lalang orang selama bertahun-tahun. Bekas jelaga tampak di langit-langitnya. Namun, penemuan yang paling luar biasa menanti di depan.
Cahaya senter mereka menyorot dinding yang lurus sempurna, sebuah sudut… dan sebuah ambang pintu yang muncul dari kegelapan.
Ratusan kaki di bawah tanah, berdiri sebuah bangunan yang jelas-jelas dibuat oleh tangan manusia.
Lalu, suara batuk bergema dari kegelapan.
Mason melangkah masuk dengan hati-hati dan mengangkat kameranya untuk mengambil gambar.
Saat itulah suara kering dan parau memecah keheningan total di dalam gua.
Seseorang baru saja batuk.
Suara itu jelas berasal dari manusia, dan kedua pria itu pun mematung.
Mereka memanggil sosok asing itu, namun tidak ada jawaban. Hanya keheningan—keheningan yang kini terasa jauh lebih mencekam.
Saat memeriksa dinding, Mason melihat sebuah tanggal yang tergores pada batu kapur:
23 Desember 1842.
Setelah kembali ke permukaan, mereka tahu mereka harus menyelidiki hal ini.
Dan tak lama kemudian, dokumen-dokumen lama membantu mengungkap misteri tersebut.
Misteri koloni bawah tanah
Ternyata, lokasi yang mereka temukan itu berkaitan dengan sejarah Mammoth Cave yang terkenal.
Pada abad ke-19, tuberkulosis—yang saat itu dikenal sebagai penyakit *consumption*—membuat pasien hampir kehilangan harapan untuk sembuh. Seorang dokter setempat, Dr. John Croghan, memutuskan untuk melakukan eksperimen yang tidak biasa.
Ia meyakini bahwa suhu yang stabil dan iklim mikro yang unik jauh di bawah tanah dapat bermanfaat bagi para pasien.
Sebuah koloni kecil bawah tanah dibangun di dalam gua tersebut bagi orang-orang yang sakit. Mereka membangun tempat tinggal dari batu dan kayu di sana untuk menampung para penderita tuberkulosis.
Namun, eksperimen itu dengan cepat berubah menjadi mimpi buruk.
Para pasien hidup berbulan-bulan tanpa sinar matahari. Lampu minyak menerangi ruangan-ruangan itu, sementara buruknya ventilasi membuat udara dipenuhi asap dan jelaga.
Alih-alih membaik, kondisi banyak pasien justru semakin parah.
Saat seseorang meninggal, jenazahnya akan dibiarkan di dekat tempat tinggal—di atas sebuah tepian batu besar—untuk beberapa waktu sebelum dibawa keluar.
Kini, tempat itu dikenal sebagai “Corpse Rock” (Batu Mayat).
Mason dan Caleb tidak berpapasan dengan siapa pun di lorong-lorong bawah tanah itu.
Namun, satu pertanyaan masih belum terjawab.
Apa sebenarnya yang mereka dengar di tengah kegelapan pekat itu?
Apakah itu sekadar efek akustik aneh yang tercipta akibat lorong-lorong berliku dan batuan kapur?
Ataukah suara manusia dari masa lampau benar-benar bergema di bawah tanah setelah hampir dua abad berlalu?
Terkadang, rahasia yang paling mengerikan tidak tersimpan di tempat yang kita cari, melainkan di tempat-tempat yang sudah lama ditinggalkan orang.